Laki-laki dan Air Mata: Sebuah Pandangan yang Berbeda

Di balik ketangguhan yang dituntut, ada air mata yang jarang tersentuh. Sebuah narasi tentang laki-laki dan perasaan yang nyata.
Ilustrator : Rahmania Mutiara Aulia Putri

Tangisan sering kali dianggap sebagai simbol kelemahan, terutama bagi laki-laki. Sejak kecil, banyak anak laki-laki tumbuh dengan kalimat seperti “jangan menangis dan harus kuat.” Pandangan tersebut kemudian membentuk stigma yang masih bertahan hingga saat ini di tengah masyarakat. Akibatnya, tidak sedikit laki-laki yang memilih memendam emosi karena khawatir dianggap lemah oleh lingkungan sekitar. Namun, di balik stigma tersebut, muncul berbagai pandangan yang berbeda. Sebagian orang menganggap menangis adalah hal yang wajar bagi setiap manusia, sedangkan sebagian lainnya masih meyakini bahwa laki-laki harus terlihat kuat dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Dalam wawancara, Asep Sopian mengungkapkan, “menangis merupakan bentuk pelampiasan emosi yang wajar, baik bagi laki-laki maupun perempuan, bahwa setiap manusia memiliki cara masing-masing dalam mengelola perasaannya,” katanya. “Kalau menurut pandangan saya pribadi mau cowo ataupun cewe tidak menutup kemungkinan untuk meluapkan emosi manusia jugakan hal yang wajar, bisa aja meluapkan emosi lewat menangis tetapi ada sebagian laki-laki yang memang bisa menahan emosinya sendiri lewat mentalnya sendiri jadi lebih kuat dibandingkan dengan perempuan,” lanjutnya Asep.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa menangis tidak selalu menjadi ukuran kekuatan atau kelemahan seseorang. Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengendalikan emosinya. Ada yang memilih menangis untuk menenangkan diri, sementara yang lain memilih cara berbeda untuk mengatasi tekanan. Pelampiasan emosi tidak selalu harus dilakukan melalui hal-hal negatif, banyak kegiatan positif yang dapat menjadi sarana untuk menyalurkan perasaan.“Sebagian dari remaja meluapkan emosi untuk menenangkan, tetapi bukan hanya meluapkan emosi kedalam yang negatif, bisa juga meluapkan ke dalam positif seperi halnya olahraga, berkumpul dengan komunitas yang berdampak positif buat dirinya sendiri, jadi lebih kepada memilih dan memilah,” ujar Asep.

Baginya, yang terpenting bukanlah seseorang menangis atau tidak, melainkan bagaimana ia memilih cara yang sehat untuk mengelola emosinya. Pengalaman menghadapi masa-masa sulit pernah dirasakan oleh Asep, saat berada pada titik terendah dalam hidupnya, ia memilih mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai cara untuk memperoleh ketenangan batin. Rasa takut laki-laki untuk menangis sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Dukungan dari orang-orang terdekat dianggap memiliki peran penting dalam membentuk cara seseorang mengekspresikan emosinya. ”Begitupun peran perempuan dinilai memiliki pengaruh besar dalam mengubah stigma emosional terhadap laki-laki dan sosok ibu menjadi salah satu figur yang paling berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang laki-laki,” ujar Asep.

Ketika membahas laki-laki yang sering menunjukkan emosinya, Asep tidak melihat hal tersebut sebagai kelemahan. Sebaliknya, ia berharap lingkungan dapat memberikan dukungan agar individu tersebut lebih percaya diri dan mampu berkembang ke arah yang lebih baik. Berbeda dengan pandangan Asep, Ani dan Rika saat diwawancarai,  setiap orang memiliki perspektif yang lebih konservatif terkait peran emosional laki-laki. Menurut mereka, stigma bahwa laki-laki tidak boleh cengeng masih muncul karena laki-laki dianggap memiliki tanggung jawab sebagai pelindung perempuan. “Laki-laki sebenernya emang harus kuat, karna emang dari sananya laki-laki melindungi perempuan, laki-laki cengeng itu tidak lucu ya, emang udah umumnya harus kuat buat melindungi perempuan,” ujar Ani dan Rika.

Bagi mereka, standar bahwa laki-laki harus kuat masih penting untuk dipertahankan, terutama ketika seseorang telah berkeluarga dan memiliki tanggung jawab yang besar. Ani dan Rika menilai bahwa laki-laki yang terlalu sering menangis dapat dipandang negatif oleh masyarakat. Menganggap tangisan sebagai sesuatu yang wajar dalam kondisi tertentu. “Tergantung nangisnya karena apa dan menurut kita image lak-laki sering nangis itu jadi buruk,” kata Rika.

Pandangan mereka menunjukkan adanya harapan bahwa laki-laki dapat menjadi tempat bersandar bagi pasangan ketika menghadapi masalah. Menurut mereka, perempuan umumnya lebih mengedepankan perasaan, sedangkan laki-laki diharapkan mampu memberikan solusi. Pengalaman pribadi pun turut membentuk pandangan tersebut. Ani dan Rika mengaku pernah merasa kurang nyaman ketika menghadapi pasangan yang terlalu sering menangis.

Perbedaan pandangan antara Asep dengan Ani dan Rika memperlihatkan bahwa stigma terhadap laki-laki dan tangisan masih menjadi perdebatan di masyarakat. Sebagian orang melihat menangis sebagai ekspresi manusia yang wajar, sementara sebagian lainnya masih mengaitkannya dengan citra kekuatan dan tanggung jawab seorang laki-laki. Pada akhirnya, emosi merupakan bagian dari kehidupan setiap manusia tanpa memandang jenis kelamin. Menangis, tertawa, marah, maupun merasa sedih adalah bentuk ekspresi yang alami. Tantangan terbesar bukanlah apakah laki-laki boleh menangis atau tidak, melainkan bagaimana masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih sehat agar setiap individu mampu mengekspresikan emosinya secara bijak tanpa takut dihakimi oleh lingkungan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *