Menata Batasan Emosi dan Overthinking di Bangku Kuliah

Produktif itu penting, tapi kesehatan emosi adalah prioritas. Jangan biarkan overthinking merenggut semangat belajarmu.
Dokumentasi : Rendy Anggriawan

Menjadi mahasiswa tingkat akhir sering kali diidentikkan dengan tumpukan tugas, tekanan masa depan, hingga kerentanan terhadap stres. Namun, hal berbeda ditunjukkan oleh Mawar, seorang mahasiswi semester enam Jurusan Ilmu Komunikasi konsentrasi Hubungan Masyarakat. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas akademis, ia berhasil menjaga kondisi mentalnya tetap berada di posisi yang aman (secure).

Mawar mengungkapkan bahwa lingkungan sekitar yang suportif menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas emosinya. Baginya, memilih lingkaran pertemanan yang sehat bukan sekadar tentang kuantitas, melainkan tentang kualitas interaksi yang didasari rasa saling menghargai. Ia menerapkan batasan personal (boundaries) yang ketat untuk menyaring siapa saja yang layak masuk ke dalam ranah kehidupannya.

Meski terlihat stabil, Mawar tidak menampik bahwa dirinya kerap kali didera perasaan cemas atau overthinking. Sebagai anak bungsu, pikiran tentang dunia kerja pasca-kelulusan kerap membayangi. Ia mengaku kerap menimbang-nimbang antara karier dan tanggung jawab moral untuk tetap dekat dengan orang tuanya di rumah, mengingat kakak-kakaknya kini sudah tinggal berjauhan. Menariknya, kecemasan ini murni datang dari inisiatif dan kepedulian pribadinya, bukan karena tuntutan dari pihak keluarga.

Saat berada di titik lelah, Mawar memiliki cara unik dalam merespons masalah. Berbeda dengan kebanyakan orang yang langsung mencari tempat bercerita, ia adalah tipe pribadi yang lebih memilih untuk menyendiri. Ia memegang prinsip kuat bahwa suasana hati (mood) adalah tanggung jawab diri sendiri, bukan beban orang lain. Kendati demikian, sebagai manusia ia menyadari ada kalanya bantuan orang lain tetap dibutuhkan, namun dengan kendali penuh dari dirinya sendiri.

Dari berbagai dinamika emosi seperti marah dan sedih, Mawar mengakui bahwa rasa kecewa adalah hal yang paling sulit untuk dikendalikan karena sering kali memicu konflik batin antara sudut pandang dirinya dan orang lain. Namun, melalui proses belajar yang panjang—termasuk menerima masukan dari sang kakak—ia kini jauh lebih lihai dalam mengelola ego dan emosinya.

Ketika ditanya mengenai bagaimana caranya mengomunikasikan kebutuhan mentalnya kepada orang lain saat sedang jatuh, Mawar melontarkan satu pernyataan tegas yang menjadi prinsip komunikasinya. “Eh, aku kayaknya butuh didengerin deh. Cukup dengerin, jangan kasih saran, karena aku enggak butuh saran. Aku cuman butuh tempat untuk cerita aja,” ujarnya.

Kini, dengan latar belakang ilmu komunikasi yang ditempuhnya, Mawar terus berusaha melihat segala permasalahan dari dua sisi. Ia percaya bahwa setiap tindakan orang lain pasti memiliki alasan dan latar belakangnya masing-masing, sehingga tidak ada yang perlu disalahkan secara sepihak. Bagi Mawar, kunci utama kesehatan mental adalah keberanian untuk bertanggung jawab penuh atas diri sendiri dan menghargai proses tumbuh kembang personal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *