Menyisir Jalan Pulang: Menemukan Kembali Potensi Diri yang Terkubur di Titik Terendah

Titik terendah dalam hidup bukanlah akhir perjalanan, melainkan tempat di mana potensi diri yang sesungguhnya sering kali terkubur.
Ilustrator : Rendy Anggriawan

Setiap orang pasti pernah berada di titik terendah dalam kehidupannya, dalam istilah psikologis sedang mengalami fase ketika mentalnya sedang down. Ketika tekanan hidup datang bertubi-tubi disertai pusaran kesedihan yang berlarut sering kali menjadi pemicu utama yang memperparah keadaan. Kecenderungan untuk menutup diri, menarik diri dari lingkungan, dan merasa berjuang sendirian justru membuat seseorang terjebak dalam lingkaran depresi yang tidak ada ujungnya. Padahal memendam masalah sendiri hanya membuat pikiran berputar di tempat yang sama hingga memicu ide-ide yang membahayakan diri sendiri.

Dr. Dona Eka Putri, Kepala Pusat Layanan Psikologi Universitas Gunadarma sekaligus Dosen, menegaskan bahwa semua orang pada dasarnya memiliki potensi dan berdaya untuk bangkit, asalkan mereka tahu ke mana harus mencari jalan keluar dan bagaimana mengekspresikan beban emosional yang dirasakan. ”Intinya semua orang itu berdaya tetapi mereka itu kadang tidak aware kalau mereka berdaya sehingga mereka taunya itu tidak berdaya, padahal mereka itu punya potensi yang tidak keliatan selama ini,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya proses pemulihan itu adalah untuk mengangkat “mutiara-mutiara di dalam lumpur” agar seseorang dapat menyadari kembali kemampuan tersembunyi yang selama ini tidak mereka sadari. Ketahanan mental yang terbentuk akan membuat dampak dari tekanan di kemudian hari tidak lagi seburuk dan seberat pengalaman di masa lalu.

Langkah pertama dan paling krusial yang bisa dilakukan seseorang ketika mulai merasakan tekanan mental adalah membangun support system yang tepercaya. Sebelum memutuskan pergi ke profesional, carilah orang-orang terdekat atau teman yang bisa diandalkan untuk menjadi tempat aman dalam mengeluarkan unek-unek. Melalui interaksi ini, seseorang tidak akan merasa sendirian. Selain menjadi pendengar, kehadiran teman atau support system ini sangat penting karena mereka bisa memberikan saran, dorongan, atau arahan objektif kepada kita untuk segera mencari bantuan ke psikolog atau profesional jika dirasa permasalahan tersebut sudah tidak bisa ditangani sendiri. Bersamaan dengan itu, Dona mengingatkan dengan sangat tegas agar seseorang menghindari self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan informasi yang dibaca di internet. Menginterpretasikan gejala psikologis secara keliru tanpa arahan ahli justru berbahaya karena bisa memicu salah arah, meningkatkan rasa cemas, dan membuat kondisi mental kian merosot.

Salah satu peran psikolog adalah membantu meluruskan keyakinan atau cara pandang keliru (labeling negatif) yang selama ini menghambat diri klien. Target akhir dari proses konseling bukanlah menghilangkan seluruh rasa cemas menjadi nol, melainkan memandirikan dan mengangkat potensi tersembunyi di dalam diri klien agar mereka lebih siap serta berdaya dalam menghadapi tantangan hidup ke depannya secara mandiri. “Tujuan kita adalah membuat mereka mandiri untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri kedepannya seperti apa dengan caranya sendiri, artinya kita menekankan pada dia potensi itu dan mengajak dia untuk menyadari bahwa dia bisa menyelesaikan permasalahannya dan kalaupun dia mengalami masalahnya lagi kita berharapnya tidak sebesar itu efek yang dirasakannya,” kata Dona.

Di dalam ruang konseling, proses penanganan akan disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu, baik itu melalui penanganan jangka pendek (short-term) maupun jangka panjang. Konselor profesional tidak akan mendesak atau memaksa klien untuk langsung bercerita, melainkan akan membangun rasa nyaman, mengapresiasi keberanian klien untuk datang, atau bahkan menggunakan media gambar dan isian tertulis jika mereka belum siap berbicara. “Penanganan permasalahan itu ada yang selesai dalam jangka pendek (short—term) dan ada yang harus jangka panjang, ketika seseorang pergi ke psikolog itu adalah sebuah keberanian maka kita harus mengapresiasi keberanian itu dengan membuat dia convert dulu, kalaupun dia belum bisa berbicara jangan dipaksa kita buat suasana lebih cair ajak menggambar atau melakukan tugas yang sifatnya tidak merasa tertekan gitu,” kutipnya.

Bagi yang sedang berjuang melewati fase mental down, solusi untuk merilis stres sebenarnya sangat beragam dan tidak selalu menuntut untuk pandai merangkai kata. Jika merasa kesulitan atau enggan untuk mengekspresikannya secara verbal, emosi negatif tersebut dapat dialihkan ke dalam aktivitas lain yang lebih menenangkan. Contohnya adalah dengan mencoba menulis jurnal, menggambar, atau mencari hobi baru yang menyegarkan pikiran, seperti melakukan aktivitas hiking. Selain menemukan wadah pelampiasan emosi yang sehat, solusi krusial lainnya adalah melatih pikiran untuk memilah masalah, kita harus belajar menyadari kapan sebuah persoalan telah selesai sehingga kita bisa merelakannya dan segera melangkah maju atau move on.

Batasan utamanya dapat dilihat dari durasi waktu dan seberapa banyak aspek kehidupan yang terganggu. Jika kesedihan yang dirasakan sudah berlangsung terlalu lama dan mulai merusak fungsi akademik, mengacaukan hubungan sosial dengan teman, mengganggu pekerjaan, serta membuat emosi tidak bisa diregulasi dengan baik, maka itu adalah alarm kuat bahwa saatnya membutuhkan bantuan profesional. Saat ini, layanan profesional sudah sangat mudah diakses secara resmi, baik melalui platform online seperti Halodoc yang menyediakan layanan psikolog resmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *