Arena tekanan metal ini bukan lagi soal isi skripsi, melainkan soal mempertahankan martabat dari perilaku dosen yang tak tahu etika.
Dokumentasi : Rahmania Mutiara Aulia Putri
Di lorong-lorong kampus sering kali terlihat megah dan penuh dengan janji masa depan. Di sana, para dosen dihormati sebagai pilar pengetahuan karena keilmuan dan ketegasan mereka. Namun, di balik citra publik yang rapi dan berwibawa, terkadang tersembunyi sisi gelap yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Sebuah kisah nyata dari seorang mahasiswi yang kita sebut saja Rina untuk menjaga privasinya mengungkap bagaimana batas-batas profesionalitas bisa kabur, mengubah ruang bimbingan akademik menjadi arena tekanan psikologis.
Kisah ini bukan tentang kekerasan fisik yang kasat mata, melainkan tentang pelanggaran batas halus (boundary violation) yang memanfaatkan relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa. Ini adalah cerita tentang bagaimana seorang pembimbing skripsi, yang seharusnya menjadi penuntun akademik, justru menyusupkan agenda personal yang membuat mahasiswanya merasa terjebak, bingung, dan tak berdaya. Bagi Rina, hubungan dengan dosen pembimbingnya, sebut saja Pak D, dimulai secara normal. Di lingkungan kampus, Pak D dikenal sebagai figur yang tegas, disiplin, dan sangat profesional. Ia jarang tersenyum, selalu tepat waktu, dan menuntut standar akademik yang tinggi.
Dinamika berubah ketika interaksi mereka berpindah dari ruang kuliah ke ranah digital. Awalnya, pesan singkat dari Pak D masih berkaitan dengan revisi skripsi atau jadwal bimbingan. Lama-kelamaan, sapaan tersebut mulai menyisipkan nada personal. Pertanyaan tentang kabar pribadi, komentar tentang penampilan, hingga ungkapan-ungkapan ambigu mulai muncul. Rina merasa aneh, namun ia mencoba mengabaikannya, berpikir bahwa itu hanya gaya komunikasi ia yang kebetulan lebih cair di media sosial.
Situasi memuncak pada saat dini hari. Ponsel Rina bergetar, menampilkan nama Pak D. Bukan soal draf bab akhir atau data penelitian, pesan itu berisi pengakuan langsung Pak D mengaku memiliki perasaan suka kepadanya. “Saat itu saya bingung campur takut, ia adalah dosen pembimbing saya. Tanda tangannya menentukan apakah saya bisa sidang atau tidak. Pengakuan itu datang di waktu yang tidak pantas, melalui media yang privat, dan menempatkan saya dalam posisi yang sangat sulit,” lanjutnya.
Rina merasa tidak nyaman, tersinggung, dan khawatir. Ia menyadari bahwa apa yang terjadi bukanlah bentuk perhatian akademis, melainkan pelanggaran etika yang serius. Namun, ketakutan akan dampak akademisnya membuatnya membeku. Ia tidak berani menolak secara keras, apalagi melaporkan saat itu juga. Dosen memegang kendali atas nilai, persetujuan judul, hingga kelulusan. Ketimpangan kekuasaan inilah yang sering kali dimanfaatkan oleh oknum dosen untuk melakukan tindakan impersonalia, seperti yang dialami Rina.
Pak D, menyadari posisinya, semakin menekan Rina. Ia meminta agar kejadian tersebut tidak diceritakan kepada siapa pun. “Dia bahkan menyebut dirinya sebagai ‘bawahan pimpinan kampus’ seolah-olah memiliki perlindungan atau kekuatan yang bisa menghancurkan karir akademik saya jika melaporkannya,” ungkap Rina. Ancaman terselubung ini membuat Rina merasa terisolasi. Untuk melindungi dirinya, Rina mengembangkan strategi bertahan. Ia selalu memastikan ada teman yang menemaninya saat bimbingan, menghindari pertemuan berdua di ruangan tertutup, dan berusaha bersikap sangat sopan namun dingin dalam setiap komunikasi. Ia juga mulai berhati-hati berlebihan terhadap penampilan dan cara berpakaian, fearing bahwa setiap gerak-geriknya bisa disalahartikan atau dijadikan alasan oleh Pak D untuk mendekati lebih jauh.
Dalam percakapan-percakapan berikutnya, Rina tetap merespons dengan bahasa yang sopan namun tegas menyatakan ketidaknyamanannya. “Saya bilang, ‘Maaf Pak, saya merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Mari kita fokus ke skripsi.’” Respons Pak D seringkali meremehkan, menyatakan bahwa ia hanya mengungkapkan “perasaan sayang” dan tidak bermaksud jahat. Namun bagi Rina, niat baik tidak menghapus dampak pelanggaran batas profesional tersebut.
Keputusan paling berat yang harus diambil Rina adalah memilih untuk diam sementara. Ia menyadari bahwa melaporkan Pak D di tengah proses skripsi berisiko sangat tinggi. Ia takut dosennya akan mempersulit revisi, menunda tanda tangan persetujuan sidang, atau bahkan memberikan nilai yang tidak objektif. Dukungan kuat dari ibu dan teman-teman dekatnya, Rina memutuskan untuk fokus menyelesaikan kewajiban akademiknya. Ia menyimpan semua bukti komunikasi pesan singkat yang menunjukkan ketidaknyamanannya dan penolakan halus yang ia sampaikan sebagai arsip penting. Setelah seluruh tanda tangan diperoleh, proposal disetujui, dan ia akhirnya lulus, Rina merasa bebannya sedikit terangkat. Barulah setelah statusnya sebagai mahasiswa resmi berakhir, ia memberanikan diri untuk melaporkan perilaku Pak D kepada pihak kampus.
Proses pelaporan
Proses pelaporan tidak berjalan mulus. Rina mengalami kecemasan tinggi, terutama ketika identitasnya sebagai pelapor diketahui oleh pihak terlapor selama proses klarifikasi. “Saya takut ada konsekuensi di kemudian hari, misalnya ada rasa dendam atau reputasi saya yang dicemarkan,” katanya. Namun, ada titik terang. Sebagian pimpinan kampus yang menerima laporannya bersikap responsif. Mereka mengambil alih beberapa urusan administratif Rina yang sebelumnya masih memerlukan interaksi dengan Pak D, sehingga Rina merasa lebih aman dalam transisi menuju kelulusan penuh. Langkah ini menunjukkan bahwa mekanisme perlindungan, meski lambat, sebenarnya bisa berfungsi jika ada kemauan dari pimpinan.
Setelah ceritanya mulai bocor ke lingkaran pertemanan yang lebih luas, beberapa mahasiswa lain baik laki-laki maupun perempuan mulai membuka diri. Mereka menceritakan pengalaman serupa dengan Pak D, meskipun dengan variasi tingkat keparahan. Ada yang hanya menerima pesan-pesan ambigu, ada yang diajak bicara soal kehidupan pribadi dosen termasuk masalah rumah tangganya, dan ada yang mengalami pendekatan lebih agresif.
Sayangnya, kekecewaan muncul setelah kasus tersebut selesai diproses secara internal. Setahun berlalu, Rina melihat Pak D masih aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kampus, masih mengajar, dan masih terlihat berwibawa di depan publik. Tidak ada pengumuman resmi mengenai sanksi yang dijatuhkan, atau setidaknya transparansi mengenai tindak lanjut kasus tersebut. “Ini menimbulkan pertanyaan besar. Apakah laporan saya benar-benar ditindaklanjuti? Atau hanya dianggap angin lalu?” tanya Rina. Ketidakhadiran sanksi yang terlihat publik ini sering kali menjadi masalah utama dalam kasus-kasus serupa di perguruan tinggi. Korban merasa keadilan tidak sepenuhnya tegak, sementara pelaku terus beroperasi tanpa hambatan berarti.
Dari kasus Rina menyoroti beberapa isu krusial dalam ekosistem perguruan tinggi, relasi kuasa yang tidak seimbang, dan mahasiswa berada dalam posisi rentan karena ketergantungan mereka pada dosen untuk kelulusan. Tanpa mekanisme pengawasan yang ketat, dosen memiliki peluang besar untuk menyalahgunakan wewenang tersebut. Pentingnya edukasi etika profesi dan dosen yang perlu terus diingatkan tentang batas profesionalitas. Hubungan dosen dengan mahasiswa adalah hubungan profesional, bukan personal. Penyusupan unsur personal, apalagi yang bernada romantis atau seksual, adalah pelanggaran berat
Akhir Luka
Pengalaman Rina adalah pengingat pahit bahwa citra publik seseorang tidak selalu mencerminkan karakter aslinya. Pak D, dengan latar belakang keagamaan dan citra tegasnya, ternyata mampu menyembunyikan perilaku yang mencederai etika akademik. Hal tersebut mengajarkan kita untuk tidak mudah terpukau oleh permukaan dan lebih peka terhadap tanda-tanda pelanggaran batas. Kisah Rina adalah pesan untuk tetap waspada, mendokumentasikan setiap interaksi yang mencurigakan, dan mencari dukungan dari teman, keluarga, atau lembaga konseling kampus. Jangan ragu untuk berkata “tidak” dan laporkan perilaku yang membuat tidak nyaman, meskipun itu datang dari sosok yang berkuasa.
Rina kini telah lulus dan melangkah ke babak baru kehidupannya. Luka psikologisnya mungkin tidak sedalam trauma fisik, tetapi bekas ketidaknyamanan dan hilangnya rasa percaya diri itu nyata. Namun keberaniannya untuk berbicara, meski terlambat, adalah langkah penting. Suaranya, meski sempat tertekan, akhirnya bergema, mengingatkan kita semua bahwa integritas akademik tidak bisa ditawar, dan tidak ada tempat bagi penyalahgunaan kuasa di bawah topeng profesionalisme.
Kisah ini menjadi katalisator bagi perubahan positif, di mana setiap mahasiswa bisa belajar tanpa rasa takut dan setiap dosen bisa mengajar dengan hormat, menjaga batas, dan menjunjung tinggi martabat profesi pendidik. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
