Di balik setiap senyuman, ada cerita tentang perjuangan antara kasih sayang, rencana masa depan, dan menjaga kewarasan diri.
Dokumentasi : Hafifudin
Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan tuntutan akademik hingga persiapan memasuki dunia kerja, mahasiswa sering kali dihadapkan pada berbagai tekanan yang tidak terlihat oleh orang lain. Di balik senyum yang mereka tampilkan setiap hari, tidak sedikit yang sedang berjuang melawan rasa cemas, overthinking, bahkan tekanan emosional yang datang dari berbagai arah. Salah satunya adalah Naila Narisa Dewi, mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pakuan, yang membagikan kisahnya mengenai kesehatan mental, hubungan percintaan, serta proses menerima dan memperbaiki diri.
Menurut Naila, kondisi mental yang dirasakannya saat ini belum sepenuhnya stabil. Ia menilai dirinya masih berada pada kondisi yang kurang baik, meskipun sulit untuk mengukur secara pasti keadaan mental seseorang. Ia merasa masih ada banyak hal yang membuat pikirannya dipenuhi kecemasan sehingga belum bisa mengatakan bahwa dirinya benar-benar baik-baik saja. Salah satu faktor yang paling memengaruhi kondisi emosionalnya adalah hubungan percintaan. Naila mengungkapkan bahwa hubungan asmara memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kesehatan mentalnya. Baginya, sebuah hubungan bukan hanya menjadi tempat untuk berbagi kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi sumber tekanan ketika muncul konflik, kesalahpahaman, atau harapan yang tidak terpenuhi. Ia memperkirakan sekitar 60 hingga 70 persen kondisi emosionalnya dipengaruhi oleh dinamika hubungan yang sedang dijalani.
Meski demikian, ketika menghadapi tekanan atau masalah, Naila bukan tipe orang yang memilih memendam semuanya seorang diri. Ia lebih nyaman berbicara dengan orang lain yang dipercaya. Berbagi cerita dianggap mampu mengurangi beban pikiran sekaligus mengalihkan dirinya dari berbagai pikiran negatif yang terus berputar di kepala. Menurutnya, terkadang seseorang hanya membutuhkan teman untuk mendengarkan agar perasaannya menjadi lebih lega.
Belakangan ini, hal yang paling sering membuatnya overthinking bukan hanya soal hubungan asmara, tetapi juga masa depan. Memasuki semester enam dan mulai menjalani praktik kerja lapangan membuatnya menyadari bahwa dunia setelah lulus kuliah sudah semakin dekat. Berbagai pertanyaan mengenai pekerjaan, karier, dan arah hidup terus muncul di benaknya. Ketidakpastian tersebut menjadi sumber kecemasan yang cukup besar, sebagaimana dirasakan banyak mahasiswa yang sedang berada di fase transisi menuju dunia profesional.
Di balik berbagai kekhawatiran itu, Naila tetap berusaha menjaga hubungan dengan pasangannya sebaik mungkin. Ia menyadari bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan dan terkadang sulit mengendalikan emosi. Namun, ia merasa bersyukur karena pasangannya masih menerima dirinya apa adanya. Hal itu menjadi alasan baginya untuk terus belajar memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Meski merasa diterima, ada satu hal yang paling membuatnya merasa tidak dipahami, yaitu ketika pasangan mulai bersikap cuek. Naila mengakui bahwa dirinya merupakan sosok yang membutuhkan perhatian dari orang terdekat. Ketika pasangan terlalu sibuk hingga tidak bisa memberikan perhatian seperti biasanya, ia sering kali merasa kesepian dan menganggap dirinya kurang dipahami. Perasaan tersebut menjadi salah satu pemicu munculnya berbagai pikiran negatif yang sulit dikendalikan.
Berbicara mengenai emosi, Naila mengaku bahwa rasa kecewa merupakan emosi yang paling sulit ia kendalikan. Saat merasa kecewa, emosi lain seperti marah dan sedih biasanya ikut muncul secara bersamaan. Jika penyebabnya adalah orang lain, ia tidak segan mengungkapkan rasa kecewa tersebut. Namun, apabila masalah berasal dari keadaan yang sedang dihadapi, ia justru lebih sering menyalahkan dirinya sendiri. Baginya, setiap situasi yang dialami merupakan bagian dari pilihan hidup yang pernah diambil sehingga ia merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi.
Untuk menjaga kesehatan mentalnya tetap stabil, Naila memiliki cara sederhana namun efektif, yaitu menyalurkan emosi melalui berbagai hobi yang ia sukai. Saat sedang marah, ia memilih mengekspresikan emosinya dengan menari karena aktivitas tersebut membuat energinya tersalurkan secara positif. Sementara ketika merasa sedih atau sedang dilanda kegalauan, bermain gitar menjadi teman terbaik yang mampu memberikan ketenangan. Baginya, melakukan aktivitas yang disukai bukan sekadar mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi bentuk penyembuhan diri yang membantu mengembalikan suasana hati.
Meskipun mengakui bahwa hubungan percintaan memiliki pengaruh besar terhadap kondisi mentalnya, Naila bukanlah pribadi yang mudah mengakhiri hubungan. Ia percaya bahwa menerima seseorang menjadi bagian dari hidup merupakan keputusan yang tidak sederhana. Oleh karena itu, ketika sudah memilih untuk bersama seseorang, ia akan berusaha mempertahankan hubungan tersebut selama masih bisa diperjuangkan. Namun, ia juga menyadari bahwa setiap hubungan memiliki batas. Jika suatu saat pasangannya melakukan hal yang benar-benar merugikan dan melewati batas yang dapat ia toleransi, maka keputusan untuk mengakhiri hubungan tetap akan menjadi pilihan. Hingga saat ini, ia justru merasa bahwa dirinya sering kali menjadi pihak yang lebih banyak melakukan kesalahan dibandingkan pasangannya.
