Pulang tidak selalu tentang tempat. Terkadang, tawa, dengar cerita, dan kalimat-kalimat menenangkan di antara sesaknya kepala.
Ilustrator : Rahmania Mutiara Aulia Putri
Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan dan berbagai kegiatan kampus, setiap mahasiswa memiliki cara tersendiri untuk menjaga kesehatan mentalnya. Bagi Alifa Putri Sulistyawati, menghabiskan waktu bersama teman menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengurangi stres dan pikiran berlebih yang kerap muncul dalam kesehariannya. Mahasiswi yang aktif mengikuti berbagai kegiatan kampus ini mengaku lebih nyaman berada di lingkungan yang ramai dan penuh interaksi. Menurutnya, keberadaan teman dapat menjadi sumber energi positif ketika dirinya sedang menghadapi berbagai tekanan.
Alifa mengaku dirinya merupakan pribadi yang cenderung ekstrover dan menyukai suasana ramai. Karena itu, ketika merasa lelah atau terbebani oleh berbagai persoalan, ia lebih memilih berkumpul dengan teman-temannya, berjalan-jalan, atau sekadar belajar bersama di kafe. Aktivitas sederhana tersebut membuat pikirannya lebih tenang dan tidak terlalu fokus pada masalah yang sedang dihadapi. “Kalau lagi overthinking biasanya aku lebih memilih main sama teman. Mungkin ga bisa dilupain banget, tapi agak lebih tenang sedikit karena bisa curhat ke teman juga,” Ujarnya.
Meski begitu, ada kalanya Alifa memilih menikmati waktu sendiri. Saat sedang tidak ingin berurusan dengan banyak orang, ia lebih senang mencari tempat yang tenang seperti taman atau ruang terbuka yang dekat dengan alam. Baginya, suasana yang tidak terlalu ramai dapat membantu dirinya merasa lebih rileks dan nyaman. Momen me time tersebut menjadi cara bagi Alifa untuk menenangkan pikiran sekaligus memberi ruang bagi dirinya untuk beristirahat sejenak dari berbagai aktivitas yang dijalani.
Tidak hanya menjadi tempat bercerita, teman juga berperan sebagai sumber dukungan bagi Alifa. Ia percaya bahwa kepedulian sederhana seperti mengajak berbicara, menemani, atau sekadar menanyakan keadaan seseorang dapat membantu mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Menurutnya, orang-orang yang cenderung pendiam atau sulit berbaur juga perlu dirangkul agar tidak merasa sendirian. Ia menilai bahwa lingkungan yang peduli dapat membantu seseorang lebih mudah bangkit ketika sedang berada dalam kondisi yang tidak baik.
Pandangan serupa yang dirasakan oleh Kisti Maisyah Hapsari. Mahasiswi yang aktif menjalani kuliah sambil bekerja ini mengaku lebih sering menghabiskan waktu bersama teman ketika merasa lelah secara mental. Baginya, berbincang dan berbagi cerita dengan teman dapat memberikan jeda dari berbagai tekanan yang sedang dihadapi. Meski tidak selalu mampu menghilangkan masalah sepenuhnya, setidaknya ia dapat merasakan kebahagiaan dan ketenangan untuk sementara waktu.
Kisti mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang sulit menyimpan cerita sendiri. Ketika menghadapi masalah, ia mencoba menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum kemudian membicarakannya dengan teman-teman yang dipercaya. Mendengar sudut pandang orang lain dapat membantu dirinya melihat persoalan dengan lebih jernih. “Aku orang yang paling ga bisa mendem sendiri. Hal-hal kecil aja aku harus ceritain ke teman yang aku percaya,” Ujarnya.
Sebagai mahasiswi yang juga bekerja, Kisti pernah merasakan tekanan yang cukup berat hingga memengaruhi konsentrasinya. Ia mengaku stres membuat dirinya sulit fokus, baik saat mengikuti perkuliahan maupun ketika menjalankan pekerjaannya. Situasi tersebut semakin terasa ketika masalah pribadi datang bersamaan dengan tuntutan akademik dan pekerjaan. Namun, berbagai mimpi dan cita-cita yang masih ingin diraih menjadi alasan utama baginya untuk terus bertahan dan bangkit dari keterpurukan.
Untuk menjaga kondisi mentalnya, Kisti melakukan berbagai aktivitas yang ia sukai, seperti bersepeda, membaca cerita daring, atau mendengarkan musik. Aktivitas tersebut menjadi cara sederhana untuk menenangkan diri dan memberikan ruang bagi dirinya untuk beristirahat sejenak. Selain itu, ia juga menjadikan teman-temannya sebagai tempat berbagi cerita ketika membutuhkan dukungan. Baginya, memiliki orang yang mau mendengarkan merupakan hal yang sangat berarti di tengah berbagai tekanan yang dihadapi.
Alifa dan Kisti percaya bahwa dukungan dari lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Kehadiran teman yang bersedia mendengarkan, menemani, dan memberikan semangat menjadi salah satu hal yang membantu mereka menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah kesibukan dan tuntutan yang terus datang, keduanya memilih untuk tidak menghadapi masalah seorang diri. Bagi mereka, bercerita dan memiliki orang yang dapat dipercaya menjadi cara sederhana yang mampu membuat beban terasa lebih ringan.
