Dosen yang Mengajar dengan Hati

Mengajar psikologi bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan empati dan pemahaman mendalam tentang jiwa manusia kepada setiap mahasiswa.
Ilustrator : Rendy Anggriawan

Di balik sosok dosen yang pernah dikenal “killer”, Dr. Dona Eka Putri, M.Psi., Psikolog, menyimpan cara pandang yang hangat tentang pendidikan. Dari ruang kelas hingga layanan psikologi kampus, ia menjalani profesinya sebagai bentuk pelayanan. Ia terus belajar memahami mahasiswa yang selalu berubah dari masa ke masa. Ia seorang, Kepala Pusat Layanan Psikologi di Universitas Gunadarma sekaligus Dosen, Psikologi adalah ilmu yang mempelajari manusia, perilaku, serta kehidupan. Dari pemahaman itu, ia melihat profesi psikolog bukan hanya sebagai pekerjaan, melainkan jalan untuk melayani.

Ketertarikannya pada dunia psikologi berawal dari hal yang sederhana. Sejak dulu, ia senang mendengarkan cerita teman dan membantu orang lain yang membutuhkan tempat untuk berbagi. Kebiasaan kecil itu perlahan tumbuh menjadi panggilan yang lebih serius setelah ia menempuh pendidikan dan masuk ke dunia kerja. Pada tahun 2003, ia mendaftarkan diri sebagai Dosen di Universitas Gunadarma karena kampus tersebut memiliki Fakultas Psikologi. Kini, perjalanan mengajarnya telah berlangsung selama 23 tahun.

Dalam rentang waktu itu, ia menyaksikan mahasiswa datang silih berganti dengan karakter yang semakin beragam. “Mahasiswa dulu dan sekarang, memiliki perbedaan yang cukup terasa dalam cara belajar, cara berpikir, dan cara merespons kelas,” ungkapnya.  Hal itulah yang membuatnya harus terus menyesuaikan metode mengajar agar ilmu psikologi dapat diterima dengan baik. Di awal masa mengajar,  Dona sempat dikenal sebagai dosen yang “killer” julukan  itu muncul bukan semata karena sikapnya, tetapi karena mata kuliah yang ia ampu memang dianggap sulit oleh mahasiswa. Namun di balik kesan tegas itu, ia memiliki tujuan yang sederhana untuk membuat mahasiswa paham. Baginya, nilai memang penting sebagai indikator, tetapi pemahaman jauh lebih utama.

Di dalam kelas, ia senang membangun suasana tanya jawab dan diskusi. Ia tidak ingin mahasiswa hanya duduk diam menerima teori tanpa benar-benar mengolahnya. Karena itu, ia sering memancing mahasiswa untuk aktif bertanya, dan menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Menghidupkan kelas tentu bukan hal mudah, apalagi ketika jadwal sudah memasuki sore hari. Mahasiswa mulai lelah setelah mengikuti berbagai kegiatan sejak pagi, begitu pula dosen yang telah mengajar sepanjang hari. Namun bagi Dona, kondisi itu justru menjadi tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan. Ia berusaha membuat kelas tetap hidup dengan contoh kasus yang dekat dengan realitas, bukan hanya teori yang terasa jauh.

Selain mengajar, Dona juga berperan dalam layanan psikologi di lingkungan kampus. Pusat layanan tersebut diperuntukkan bagi civitas akademika, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga keluarga inti mereka. Layanan itu menjadi ruang bagi mereka yang membutuhkan bantuan psikologis, terutama terkait kesehatan mental. “Kampus tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang yang perlu mendukung kesejahteraan batin warganya.” Ujar Dona

Dona tidak membuka praktik secara luas di luar kampus. Namun, ia tetap menerima konsultasi pribadi apabila ada orang yang menghubunginya secara langsung dan membuat janji terlebih dahulu. Sebelum aktif mengajar, ia juga sempat terlibat dalam berbagai proyek psikologi, terutama yang berkaitan dengan seleksi di bidang industri. Seiring waktu, fokusnya semakin banyak tertuju pada penanganan kasus kesehatan mental.

Bagi Dona, psikologi adalah ilmu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Selama masih ada manusia, selama itu pula psikologi akan selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Melihat banyak orang sebenarnya sudah mempraktikkan prinsip psikologi tanpa menyadarinya. Karena itu, ia ingin mahasiswa memahami bahwa psikologi bukan sekadar teori di ruang kelas, melainkan ilmu yang hadir dalam cara manusia berpikir, merasa, dan berhubungan dengan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *