Jangan reduksi perjuangan jiwa menjadi sekadar konten. Kesehatan mental bukan musim yang akan lewat, ia adalah perjalanan panjang yang melelahkan bagi mereka yang sedang berjuang melawan diri sendiri.
Dokumentasi : Siska Julianti
Kesadaran generasi muda, khususnya Generasi Z, terhadap isu kesehatan mental di era modern saat ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Meski demikian, pemahaman masyarakat secara umum dinilai baru sebatas permukaan akibat maraknya istilah diagnosis di media sosial, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih peka dan empati dalam merespons fenomena ini di kehidupan nyata. Konsepsi kebebasan ekspresi seringkali berbenturan dengan egoisme sektoral di lapangan. Setiap orang memiliki mekanisme pertahanan dan cara tersendiri dalam membangun serta mengekspresikan dinamika psikologis atau suasana hati (mood) mereka.
Bagi kalangan muda seperti Bilqis, pentingnya menjaga kesehatan mental terletak pada kemampuan untuk memahami bahwa rasa sakit tidak hanya berasal dari fisik, melainkan juga dari dalam jiwa. Di era saat anak muda sudah akrab dengan berbagai istilah medis, pemahaman ini krusial agar masyarakat bisa lebih peka terhadap lingkungan sekitar, karena sesuatu yang dianggap sebagai candaan atau ucapan sepele bisa berdampak besar pada psikologis orang lain. Senada dengan hal itu, Salma menitik beratkan isu ini pada aspek fungsional hidup dan adaptasi. Menurutnya, kesehatan mental yang baik adalah kunci utama agar seseorang bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial dan lebih menikmati hidup.
Peningkatan kesadaran ini sayangnya belum diimbangi dengan pemahaman yang mendalam. Bilqis melihat bahwa media sosial seperti TikTok dan Instagram memang berhasil membuat masyarakat tahu istilah-istilah dasar seperti bipolar dan gangguan lainnya. Namun, masyarakat secara umum belum terlalu peka terhadap detail-detail kecil, terutama mengenai bagaimana cara menangani atau merespons isu kesehatan mental tersebut secara bijak. Tanpa adanya edukasi yang komprehensif, gelombang kepedulian di media sosial ini justru berisiko menciptakan pemahaman yang semu dan mengaburkan esensi penanganan medis yang sebenarnya.
Bagi Azzam salah satu pemuda di Kota Sukabumi, Ketidakmatangan pemahaman di media sosial ini memicu patologi sosial baru, di mana muncul individu-individu yang haus perhatian atau kerap diidentikkan dengan tren Narcissistic Personality Disorder (NPD). Mereka mementingkan diri sendiri, enggan belajar bersosialisasi secara sehat, dan merasa harus selalu menjadi pusat perhatian. Jika egoisme ekstrem seperti ini terus diberikan panggung di ruang publik, stabilitas sosial akan terganggu dan dampak regenerasi bagi generasi muda ke depan akan sangat tidak baik.
Menjaga stabilitas psikologis, kedua pemuda ini memiliki cara tersendiri dalam meningkatkan mood melalui hal-hal kecil. Bilqis memilih membangun mood lewat kesadaran dan apresiasi terhadap rutinitas harian serta pencapaian kecil, seperti berolahraga atau sekadar berhasil minum dengan rapi tanpa tumpah. Sementara bagi Salma, cara terbaik mendongkrak kebahagiaan adalah dengan berbagi kebaikan kepada orang lain. Melalui interaksi dan saling membantu, manusia akan merasa terkoneksi dan menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan hidup.
Bagi Azzam, pengekspresian mood setiap orang memang berhak mencari kebahagiaan melalui hobinya masing-masing, asalkan tidak mengganggu aktivitas orang lain. Jangan sampai demi menaikkan mood pribadi, seseorang melakukan tindakan destruktif. Ketika menghadapi teman atau orang terdekat yang kesehatan mentalnya sedang menurun, diperlukan pendekatan khusus yang penuh empati. Nazwa berpendapat bahwa tindakan terbaik adalah dengan merangkul dan menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi, sehingga mereka merasa aman untuk bercerita dari sudut pandang sendiri.
Di sisi lain, Salma mengingatkan pentingnya membaca situasi untuk melihat apakah orang tersebut sedang butuh ruang sendiri atau siap bersosialisasi, karena memberikan nasihat di saat seseorang berada di titik terendah tidak akan efektif. Melengkapi hal tersebut, Bilqis menegaskan bahwa lingkungan terdekat harus lebih bersabar dan proaktif mengambil inisiatif. Mengingat orang yang terganggu kesehatan mentalnya cenderung mengisolasi diri, kehadiran nyata dari sahabat atau keluarga sangat diperlukan untuk melibatkan mereka kembali ke berbagai aktivitas agar tidak terus terperangkap dalam siklus isolasi.
Penulis: Rendy Anggriawan dan Siska Julianti
