Seseorang secara sadar membuang omongan negatif dan beban ekspektasi orang lain ke tempat sampah untuk menyembuhkan diri agar bisa tumbuh kembali.
Ilustrator : Rendy Anggriawan
Banyak manusia yang berjalan layaknya raga tanpa jiwa, dibalik senyuman yang tampak indah sering kali tersimpan labirin tangisan dan emosi yang abstrak yang tak kasat mata. Seorang yang berprofesi polisi dengan gelar psikologinya, Dony Prasetya Eky Wijayanto, M. Psi, Psikolog mengungkapkan fakta bahwa hal tersebut merupakan dampak dari emosi yang tak bisa terurai. Ia memiliki sebuah metafora yang tajam untuk rasa marah, benci, dan kesedihan yang terimpan, “sampah” —satu kata yang dapat menggambarkan beban batin yang jika tidak segera dibuang akan terus menumpuk dan menjadi penghambat atas langkah dalam kehidupan seseorang. Menurutnya, sangat disayangkan beberapa orang yang tidak sadar kapan tumpukan itu akan menggunung. “Kalau kita tidak tahu kapan kita punya sampah apalagi sampai menumpuk itu akan berat dan mempengaruhi kesehatan mental, jadi jika ada hal yang buat kita overthinking kita buang saja,” ujarnya.
Kesehatan fisik yang prima tidak akan berarti jika psikis seseorang rapuh karena keduanya harus berjalan selaras untuk membentuk individu yang sehat secara utuh. Pentingnya menjaga kesehatan mental terletak pada kemampuan individu dalam mengelola emosinya sendiri. Maka dari itu, Dony mengatakan sebagai manusia harus memiliki konsep diri, yaitu sebuah peta mental yang menentukan arah kepribadian dari seseorang, contohnya adalah keputusan dasar untuk menjadi pribadi yang baik atau tidak baik. Konsep diri ini membantu seseorang dalam mengelola dirinya secara internal. Selain itu, faktor eksternal sangat penting support system di setiap manusia, serta regulasi emosi yang dilakukan seseorang untuk memantau, mengevaluasi, dan memodifikasi reaksi emosional yang muncul guna mencapai tujuan tertentu atau beradaptasi dengan lingkungan juga tak kalah penting.
Menurutnya, cara yang paling sederhana dalam menjaga keseimbangan ini adalah dengan berani bercerita dan tidak memendam sendiri, sebab emosi yang tersumbat dapat meledak dan berakibat fatal, seperti munculnya keinginan untuk mengakhir hidupnya. “Kita harus berusaha untuk mempercayakan kepada orang lain seperti teman atau sahabat, setidaknya kita harus memiliki satu atau dua orang sebagai pendengar karena banyak kasus yang notabenenya sampai mengakhiri hidupnya disebabkan dia tidak bisa dan tidak memiliki tempat untuk bercerita,” katanya. Namun bagi mereka yang merasa sulit untuk terbuka, Dony menyarankan alternatif lain melalui tulisan. Menulis buku harian atau diary bisa menjadi ruang katarsisi untuk menumpahkan keluhan saat mulut terasa terkunci. Selain itu ia juga mengingatkan pentingnya aspek spiritual dengan mengadu kepada Yang Maha Kuasa melalui ibadah menjadi cara yang paling efisien untuk membuat hati terasa lebih lapang.
Ada kalanya badai datang begitu mendadak dalam bentuk kepanikan. Dalam situasi yang genting seperti ini, terdapat sebuah teknik yang sederhana namun krusial—berdiam diri sejenak dan bernapas, dengan menarik napas dalam-dalam selama 5-10 menit. Hal tersebut adalah cara memberikan jeda oksigen bagi saraf otak agar tidak terus-menerus diselimuti kabut kepanikan. Jeda ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi masalah dengan lebih jernih, apakah persoalan tersebut tergolong ringan, sedang, atau berat.
Dalam setiap manusia bahwa stress menjadi hal yang wajar selama ia mampu mengenali dirinya sendiri, memahami apa yang dirasakan, dan mengetahui cara menyelesaikan permasalahan. Pada akhirnya, hidup adalah tentang pilihan. Apakah kita ingin menyelesaikan masalah tersebut hingga menemukan titik temu atau terus menghindar dan membiarkan diri kita dihantui oleh sampah yang kita buat sendiri. Fisik yang sehat tidak akan pernah sempurna tanpa jiwa yang sehat. Kesehatan mental adalah tentang keberanaian untuk jujur pada perasaan sendiri.
Penulis : Siska Julianti

