Kesuksesan tidak datang seketika, melainkan melalui proses yang panjang
Ilustrator : Rendy Anggriawan
Dony Prasetya Eky Wijayanto merupakan seorang polisi yang memiliki ketertarikan terhadap ilmu psikologi karena menurutnya, psikologi mempelajari sisi manusia yang tidak terlihat secara fisik, seperti emosi, kepribadian, dan kondisi jiwa. Baginya, perilaku seseorang merupakan bentuk nyata dari emosi yang mereka rasakan. Ketertarikan tersebut semakin kuat ketika melihat banyak orang di era sekarang terutama di usia remaja yang mengalami stres, memendam masalah, hingga kesulitan mencari tempat untuk bercerita. Dari situlah ia merasa ingin membantu orang lain memahami dirinya sendiri agar tidak terjebak dalam tekanan mental yang berlarut-larut.
Perjalanan akademiknya dimulai dari jenjang S1 Psikologi, lalu dilanjutkan ke S2 Psikologi Profesi sehingga ia resmi menyandang gelar psikolog dan mengantongi izin praktik. Dengan latar belakang tersebut, Dony dapat melakukan asesmen psikologi, memberi rekomendasi, hingga membuka praktik profesional. Meski saat ini memiliki kesibukan di kepolisian, ia tetap membuka praktik sesuai kebutuhan dan aktif berada dalam komunitas profesi psikologi Indonesia.
Dalam menjalankan profesinya, Dony percaya bahwa seorang psikolog harus memiliki empati, sensitivitas, dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Menurutnya, psikolog bukan sekedar memberikan solusi, tetapi juga menjadi fasilitator agar seseorang mampu menemukan jawaban atas persoalannya sendiri. Ia senang membantu orang lain memetakan masalah yang mereka hadapi hingga akhirnya muncul kesadaran dan pemahaman diri dalam diri individu tersebut.
Bagi Dony, kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting karena setiap manusia pasti memiliki persoalan dalam hidupnya. Ia menilai bahwa banyak orang megalami tekanan mental karena tidak memiliki tempat untuk bercerita atau terlalu lama memendam emosi. Oleh sebab itu, ia sering mengingatkan pentingnya support system, regulasi emosi, dan keberanian untuk terbuka kepada orang terpercaya. Menurutnya, emosi yang dipendam secara terus-menerus dapat menumpuk dan akan berdampak buruk terhadap kesehatan mental seseorang.
Dony juga menekankan bahwa stres sebenarnya merupakan hal yang wajar selama seseorang mampu mengelolanya dengan baik. Salah satu contoh sederhana yang sering ia sarankan adalah memberi jeda ketika panik, menarik napas dalam-dalam, lalu mencoba mengidentifikasi masalah secara perlahan. Selain itu, ia percaya bahwa mengenali diri sendiri menjadi langkah penting dalam menjaga kestabilan emosi. Ia bahkan menyarankan seseorang untuk sesekali bicara dengan dirinya sendiri di depan cermin sebagai bentuk refleksi dan apresiasi terhadap perjalanan hidup yang telah dilalui.
Dalam pengalamannya menangani klien, Dony banyak menemukan persoalan yang berakar dari kecemasan berlebihan dan overthinking. Ia percaya bahwa psikolog hanya membantu mengarahkan, sedangkan keputusan dan perubahan tetap berasal dari individu itu sendiri. Baginya, menjadi psikolog bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang rasa, empati, dan kemampuan memahami manusia dengann berbagai latar belakang kehidupan yang berbeda.
Penulis : Rahmania Mutiara Aulia Putri

