Di balik kepala yang tertunduk, ia berjuang meredam riuh pikiran yang tak pernah benar-benar pergi.
Ilustrator : Rendy Anggriawan
Di tengah hiruk-pikuk persiapan lebaran yang biasanya penuh tawa, seorang mahasiswi semester enam justru terjebak dalam ruang hampa di kepalanya sendiri sebuah kondisi “lumpuh” emosional yang membuatnya tidak bisa bicara, tidak bisa makan, bahkan tidak bisa sekadar meneteskan air mata meskipun hatinya sedang hancur berkeping-keping. Titik terendah yang dialami Novia Syahrani ini merupakan puncak dari trauma panjang yang ia bawa sejak bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Bagi Novia, rumah seharusnya menjadi pelukan, namun baginya rumah adalah laboratorium ketakutan. Sejak kecil, ia tumbuh di bawah bayang-bayang amarah yang meledak karena hal-hal sepele. Ingatan paling tajamnya bukanlah dongeng sebelum tidur, melainkan sebuah kursi yang dihantamkan ke sebuah tembok hijau di ruang tamu hingga retak hanya karena sang adik tak sengaja terjatuh, warna hijau yang seharusnya menjadi penyejuk dalam ruang itu justru menjadi pelampiasan amarah. Meski kekerasan fisik tak selalu mendarat di tubuhnya, bentakan dan barang yang hancur menjadi asupan mental yang merusak rasa amannya. Di bawah atap itu, sang ibu menjadi saksi sekaligus sasaran amarah sang ayah yang bisa meledak hebat hanya karena sambal yang lupa tersaji. “Dari kecil sudah disuguhi yang keras-keras,” ujarnya.
Tekanan ini menciptakan residu kecemasan yang menetap hingga ia dewasa. Kini, suara keras atau bentakan bukan sekadar kebisingan, melainkan pemantik (trigger) yang bisa membuatnya meledak secara histeris, bahkan cukup untuk memicu kembali trauma yang ia simpan rapat-rapat. Di masa lalu, reaksi emosionalnya yang hebat sering kali disalahpahami oleh lingkungan sekitar sebagai fenomena mistis atau kesurupan, padahal itu adalah jeritan mental yang tidak mampu lagi menahan beban.
Ironisnya, sekolah yang seharusnya menjadi pelarian justru menjadi medan tempur kedua. Sebagai “anak emas” yang selalu juara kelas, ia justru menjadi sasaran perundungan oleh teman sebayanya. Lebam dan luka fisik dari teman sebayanya menjadi rahasia yang ia bawa pulang, sementara tugas sekolah yang dikerjakannya dengan tekun pernah dihancurkan begitu saja dengan pisang busuk. Di rumah ia tertekan, di sekolah ia terasing. Selama bertahun-tahun, ia menormalisasi badai ini sebagai bagian dari hidup. Setelah menginjak bangku SMA, ia tersadar bahwa jiwanya sedang menjerit. Ia memahami bahwa ketakutan yang ia rasakan bukanlah kewajaran, melainkan luka psikis yang nyata.
Kejadian paling parah menimpanya saat libur kuliah baru-baru ini. Selama berminggu-minggu, Novia merasa kehilangan identitas diri, seolah sosok dirinya telah menguap entah ke mana. Ia merasa menjadi orang asing di rumahnya sendiri, tidak mampu merespons obrolan orang tua dan bahkan merasakan kebencian yang mendalam secara tiba-tiba terhadap anak kecil. Namun, di tengah kegelapan itu, sebuah titik balik muncul dari hal yang paling tidak ia duga. Kehadiran seorang bayi keponakan yang terus merangkak mendekat dan bermanja kepadanya perlahan-lahan meruntuhkan dinding es yang membekukan hatinya. Tanpa kata-kata medis yang rumit, kepolosan anak kecil itu justru menjadi obat yang membantunya pulang kembali ke dirinya sendiri.
Perjalanan Novia menuju pulih memang tidaklah berjalan mulus. Hingga kini, ia masih sering memilih untuk menjauhi keramaian jika merasa emosinya akan meluap, demi menjaga agar tidak merepotkan orang lain. Ia memikul beban rasa bersalah yang besar setiap kali kondisinya kambuh seperti saat ia harus dilarikan ke rumah sakit dari basement kampus karena ia tidak ingin menjadi beban finansial maupun tenaga bagi orang-orang di sekitarnya. Baginya, kesehatan fisik yang ikut ambruk dan tugas kuliah yang terbengkalai hanyalah dampak sampingan dari peperangan besar yang terjadi di dalam kepalanya.
Kisah Novia menjadi pengingat keras bahwa di balik senyum generasi Z yang tampak baik-baik saja, sering kali tersimpan luka lama dan sensitivitas tinggi terhadap lingkungan yang toksik. Kini, ia belajar untuk lebih berani menentukan batasan keluar dari hubungan yang merusak dan menjauhi suara-suara keras yang bisa memicu traumanya. Ia percaya bahwa sebagai makhluk sosial, dukungan tulus dari teman-teman yang tidak menghakimi adalah oksigen yang ia butuhkan untuk tetap bernapas, sambil perlahan-lahan belajar memaafkan dirinya sendiri atas segala kerapuhan yang ia miliki.
Penulis : Rendy Anggriawan

