Pia, Rumah yang Riuh, dan Luka yang Membisu

Tatapan murungnya, menyimpan cerita yang tak pernah terucapkan.
Ilustrator : Rendy Anggriawan

Bagi sebagian besar anak, rumah adalah pelabuhan terakhir tempat mencari kehangatan dan rasa aman setelah lelah menghadapi dunia luar. Namun, bagi seorang gadis remaja bernama Pia, narasi itu terasa begitu asing. Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung, justru bertransformasi menjadi ruang penuh ketidaknyamanan. Setiap kali melangkah melewati pintu, suasana tegang kerap menyambutnya, digantikan oleh gema pertengkaran kedua orang tuanya yang bersahut-sahutan.

Masalah ekonomi menjadi pemantik utama yang paling sering menyulut adu mulut di antara ayah dan ibunya. Walau ketegangan itu tidak pernah berujung pada kekerasan fisik, setiap untaian kata kasar yang terlontar tetap menyisakan luka psikologis yang teramat dalam bagi Pia. Ada rasa malu yang menjalar di dadanya setiap kali menyadari bahwa jeritan dan makian dari dalam rumahnya bisa terdengar hingga ke telinga para tetangga. Jika situasi sudah memanas seperti itu, Pia biasanya memilih untuk melangkah keluar, menjauh dari riuh rendah ruang tamu, demi mencari ketenangan yang tidak pernah ia dapatkan di dalam rumahnya sendiri.

Badai di rumah Pia mencapai titik puncaknya ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Bagi Pia, momen itu adalah titik terendah dalam hidupnya. Dunianya seolah runtuh seketika. Hari-harinya dihabiskan dengan mengurung diri di dalam kamar, ditemani air mata yang terus mengalir dalam keheningan. Tekanan batin yang begitu hebat akhirnya membuat kesehatan mental dan fisiknya ambruk; penyakit lambung kronisnya kerap kambuh akibat pikiran yang terlalu terbebani.

Melihat kondisi Pia yang memburuk, kedua orang tuanya akhirnya memilih untuk rujuk. Sebuah keputusan yang sempat menerbitkan secercah harapan di hati Pia. Ia bahkan membatalkan niatnya untuk berobat ke psikolog karena percaya bahwa kembalinya ayah dan ibu akan membawa lembaran baru yang lebih damai. Namun, ekspektasi indah itu justru berbuah kekecewaan yang jauh lebih menyakitkan. Pascarujuk, suasana rumah ternyata sama saja. Pertengkaran demi pertengkaran tetap membabi buta, membuat emosi Pia yang awalnya bisa dikontrol kini menjadi tidak stabil dan mudah meledak-ledak. Ada kalanya ia tak lagi mampu membendung amarah, hingga reflek melempar barang atau meluapkan kata-kata kasar, meski ia bersyukur masih bisa menjaga diri agar tidak melakukan tindakan nekat yang membahayakan keselamatannya.

Beban hidup Pia tidak berhenti di pagar rumah. Di bidang akademik, ia harus menelan pil pahit karena terpaksa pindah dari sekolah Kehutanan, sekolah impian yang sangat ia dambakan ke program kesetaraan Paket C. Faktor biaya dan masa pemulihan pasca-operasi fisik memaksanya mengubur mimpi itu dalam-dalam. Berada di lingkungan sekolah yang baru ternyata tidak membuatnya nyaman. Ditambah lagi dengan tuntutan orang tua yang mendesaknya untuk segera mencari nafkah di tengah kondisi psikologisnya yang limbung, Pia kehilangan seluruh semangat belajarnya. Rasa malas yang teramat sangat sesekali membuatnya nekat membolos sekolah. Ia berangkat dari rumah, namun kakinya melangkah ke arah lain, menyembunyikan kenyataan itu rapat-rapat dari orang-orang di rumah.

Di luar dinding rumah yang dingin, Pia beruntung memiliki lentera-lentera kecil yang menjaganya tetap bertahan. Teman-teman sebayanya hadir sebagai support system utama. Di dekat rumahnya, ada seorang sahabat karib yang mengalami nasib serupa; tempat mereka saling bertukar cerita, berbagi beban, dan saling menguatkan saat dunia terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Selain itu, Pia juga sempat melarikan diri selama enam hari ke rumah kakak kandungnya di Bandung tanpa sepengetahuan orang tua, hanya demi menenangkan pikirannya yang kalut. Sang kakak yang sangat menyayanginya selalu menjadi pelindung, memberikan kata-kata penyemangat, dan tak bosan mengingatkan Pia untuk tidak mengambil langkah nekat dalam menghadapi cobaan hidup.

Namun, jika ditanya apa yang membuat Pia tetap memiliki alasan untuk membuka mata dan tersenyum menyambut hari esok, jawabannya adalah sang ibu. “Alasan aku tetap semangat buat hari esok karena ngeliat mamah,” ujar Pia dengan mata yang berkaca-kaca dan tubuh yang sedikit gemetar. Walau hubungan mereka tidak seakrab pasangan ibu dan anak pada umumnya, bagi Pia, Ibu adalah tempat bersandar terakhir ketika dunia pertemanan sudah tidak mampu membantunya lagi. Sebaliknya, hubungan Pia dengan ayahnya cenderung dingin dan berjarak.

Melengkapi luka batinnya, Pia juga harus membawa trauma masa lalu dari lingkungan sekolah lamanya, di mana ia pernah menjadi korban perundungan (bullying). Rasa sakit itu kian membekas karena sang pelaku sama sekali tidak merasa bersalah, sementara pihak sekolah yang sempat ia lapori memilih menutup mata tanpa memberikan solusi. Pengalaman pahit itu membuat Pia menjadi sangat tertutup dan takut untuk menjalin pertemanan luas, meskipun jauh di lubuk hatinya, ia sangat merindukan kehadiran banyak teman di sisinya.

Kini, dengan segala luka batin akibat broken home dan perundungan, Pia sedang belajar berdamai dengan kenyataan. Ia memilih untuk memaafkan, sebuah proses yang teramat sulit namun ia lakukan karena tahu bahwa di balik segala kekurangan itu, orang tuanya tetap menyimpan rasa peduli padanya. Kehangatan sebuah keluarga yang utuh kini menjadi barang mewah bagi Pia, sebuah momen langka yang hanya bisa ia reguk sesekali, tepatnya ketika sang kakak pulang dari Bandung, membuat mereka bisa duduk bersama di meja makan sebagai sebuah keluarga yang utuh kembali.

Penulis : Ghina Reysa Wahyudi

Lentera Teduh